11/16/2009

Kurban dan Visi Kehidupan Manusia Di Dunia

M. Miftah Wahyudi

Gema takbir, tahmid dan tahlil, tanda kebesaran Hari Raya Idul Adha belum lama berselang. Sayup-sayup masih tersirat di hati seorang muslim, betapa getaran takbir kebesaran tuhan berulangkali disebut; Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahihamd. Namun, menjadi sebuah tanda tanya, seberapa besarkah kebesaran Hari Raya Idul Adha, sehingga kehadirannya tak lagi memperdulikan status manapun, semua orang muslim baik kaya maupun si miskin, ulama maupun yang culas, priyayi maupun abdi, semua menikmati kebesaran Hari Raya Idul Adha, paling tidak merasakan kebesaran itu dengan seiris daging kurban? Allahu Akbar Walillahihamd.
Hari Raya Kurban adalah ritual tahunan yang dihasilkan dari perjalanan keimanan nabi Ibrohim. Beliau rela mengorbankan anaknya, nabi Ismail, untuk disembelih atas perintah Allah Swt. Satu perintah yang amat berat dijalankan oleh seorang hamba di muka bumi, walau seorang nabi sekalipun. Dengan keridlo’an dan rahmat Allah Swt, akhirnya perintah ini dapat dijalankan nabi Ibrohim.
Berdasar pada perintah di atas, tulisan ini hendak menjelaskan kembali makna kurban yang belakangan ini konteks kurban lebih pada makna materielnya, seiris daging yang diperebutkan beramai-ramai, ditunggu mulai dini hari seperti yang terjadi di Istiqlal, dan beberapa tempat lainnya. Padahal, dasar ibadah kurban berhubungan dengan “nilai pengorbanan diri”, memberikan sesuatu atau merelakan sebagian dari diri manusia untuk dikorbankan demi sebuah tujuan.
Inti tujuan tersebut di atas merupakan penyucian diri atas kehendak nafsu, yang tanpa sadar bergantung selain dari Allah. Hanya tendensi ketauhidan sajalah tujuan dari kurban. Yang pada akhirnya, nilai penghambaan seorang hamba dinilai atas seberapa besar rasa pengorbanannya bagi Allah Swt.

Sandaran Teologis

Tujuan syar’i agama Islam dalam kurban akbar nabi Ibrahim adalah penyadaran diri bahwa bagian dari diri manusia berupa “nafas (hembusan) kehidupan”, tidak satupun menjadi kekuasaan manusia sepenuhnya. Bagi manusia semua adalah terberi, hingga ruh suci yang tersusun oleh hal-hal ajaib dan rahasia diberikan cuma-cuma tanpa meminta-minta. Maka tidak salah jika salah satu tujuan dasar syar’i adalah “hifdzul an-nafs” (menjaga diri), karena kehidupan manusia adalah anugrah terbesar Allah Swt bagi seluruh umat manusia. Tanda terciptanya manusia di dunia sesungguhnya merupakan perwujudan manusia selamanya (Khuliqna lil abad). Oleh karenanya, menjaga diri berarti bersyukur atas ciptaan yang telah diberikan.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan barangsiapa membunuh seseorang tanpa ada alasan syar’i, maka pada hakekatnya dia telah membunuh seluruh umat manusia.

“Oleh karena itu, Kami tetapkan bagi Bani Israel bahwa barang siapa membunuh seorang manusia –bukan disebabkan pembunuhan atau membuat kerusakan di muka bumi- maka seakan-akan ia telah membunuh manusia secara keseluruhan. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya. (Al-Maidah; 32)

Tahapan kedua, proses penjagaan ruh manusia di dunia dibebani pula oleh tanggung jawab “persaksian”, bahwa pernah bersaksi kepada Allah Swt untuk mengakuinya sebagai tuhan satu-satunya. Hal ini menandakan manusia membawa misi suci ”tauhid” atau rasa “keimanan”. Cermin sederhana makna ketauhidan adalah tidak menyamakan atau memperbandingkannya dengan apapun.
Tawaran finalnya adalah, jika ada pengandai-andaian struktur yang berkuasa di luar kemaujudan Allah Swt, entah yang disandarkan pada kekuatan fisik seperti kekuatan otot, kedalam pikiran seperti tingginya pengetahuan, maupun kekuatan harta baik berupa uang maupun anak keturunan. Maka hal itu semua dihukumi kufur. Baik pada tingkat terendah berupa kufur nikmat hingga kufur dzat yaitu syirik yang tak terampuni. Dengan demikian secara eksplisit manusia memiliki dua misi suci, menjaga kesucian dirinya dan kesucian Allah Swt yang mahasuci.
Dari dua tahapan di atas, ada tiga unsur utama yang menjadi simbol kebesaran kurban nabi Ibrahim. Pertama, menjaga titipan suci Allah Swt berupa “ruh” yang di akhirat nanti merupakan bentuk “kejadian” yang dapat berkumpul dan berjumpa dengan-Nya. Kedua, mengimani misi manusia di dunia yaitu menjaga dan menyebarkan amanah suci berupa “ketahuidan” atau “keimanan” pada Allah Swt, yang terimplementasi bahwa hanya Allahlah penentu dan berhak atas segalanya, tak ada persekutuan terkecilpun di dunia ini kecuali hanya mencari ridlonya. Ketiga Allah Swt adalah suci dan tiada kembali kepadanya kecuali dengan kesucian pula.
Terpadunya tiga hakikat dari pemahaman tujuan syar’i ini menunjukkan bahwa, ajaran Islam diturunkan semata-mata menyatukan kesucian tuhan dan kesucian makhluk. Keharmonisan yang tumbuh dari keduanya terwujudkan pada hakikat syukur atas semua yang diciptakan Allah Swt. Hal ini menandakan bahwa keragaman suku, ras, etnik, jenis kelamin, bahkan agama sekalipun, semua itu adalah sunnatullah sebagai penciptaan yang suci. Perbedaan antara yang satu dan yang lainnya, terletak pada pusat di mana manusia berjuang untuk membawanya menuju yang suci, yakni agama Islam.

Ketauladanan Nabi Ibrahim

Lalu bagaimana dengan peristiwa penyembelihan atau kurban yang dilakukan nabi Ibrohim pada nabi Ismail. Tidakkah hal ini menjadi perlawanan dari tujuan syar’i itu sendiri, walupun pada akhirnya ditukar dengan seekor kambing?
Maha Besar Allah Swt, dengan Maha Belas-Kasih dan Sayang-Nya, implementasi kurban nabi Ibrohim diganti dengan binatang yang jauh di bawah derajad penciptaan manusia. Setidaknya ada dua sandaran teologis dalam misi kurban akbar nabi Ibrohim. Antara keterpautan “teks” atau wahyu, yaitu nabi Ibrohim yang menerima perintah. Dan “konteks” yang diobyektivikasikan pada nabi Ismail untuk menyetujui risalah tersebut. Dialog antar keduanya merupakan nilai transendensi arah tujuan kurban.
Dialog antara Allah dengan nabi Ibrohim merupakan indikasi kedekatan makhluk dengan tuhannya. Artinya, arah perjuangan manusia sebagai makhluk adalah menjunjung tinggi nilai ketuhanan itu sendiri, dengan tanpa berpretensi bahwa perintah yang ditetapkan Allah Swt tidak baik adanya bagi manusia. Namun, disadari pula timbal balik kesucian seperti yang dilakukan nabi Ibrohim memiliki keterhubungan dengan makhluk suci yang lain yakni nabi Ismail.
Tasaruf muamalah yang didasari rasa keimanan, antara nabi Ibrahim dan nabi Ismail, membuahkan kepercayaan akan kebenaran tuhan. Maka, buah yang dihasilkan adalah perilaku yang benar, yaitu akhlakul karimah antar keduanya; nabi Ibrahim mengasihi anaknya dengan memberikan pertimbangan atas perintah tersebut, dan Nabi Ismail menghormati orang tuanya, bahwa apa yang diperintahkan pada orang tuanya adalah benar adanya. Titik temu keduanya adalah perilaku yang disandarkan atas rasa keimanan bersama.
Diakhir tulisan ini, hendaklah kita mentelaah peristiwa kurban secara sungguh-sungguh sebagai makna kebesaran tuhan, dari-Nya kita bisa bersyukur atas proses penciptaan yang telah diberikan. Kedua seyogyanya kita juga berterima kasih atas jasa nabi Ibrahim yang telah memberikan tauladan yang baik, bagaimana cara menumbuhkan rasa keimanan. Bukti rasa terima kasih kita pada beliau bisa dilakukan dengan banyak membaca sholawat kepada beliau. Dan dari dua rasa syukur ini, insyaAllah kita tergolong hamba Allah yang bersyukur. Amin.

*) Penulis adalah Alumni pon. Pes. Ihyaul Ulum Dukun Gresik dan Redaktur Buletin Riyaadlotul Muhtaajiin.

Sebuah Nilai Dalam Kurban Nabi Ibrahim As

M. Ata Syifa’ Nugraha )*

Ibrahim As, istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail As adalah tiga profil manusia besar dalam ibadah kurban. Sebuah perintah yang amat berat, dibebankan Allah Swt kepada mereka. Tidak pernah terjadi pada nabi-nabi lainnya. Tidak pernah terjadi pada umat lainnya. Perintah itu adalah menyembelih Ismail As, putranya sendiri, darah dagingnya sendiri.
Ada keraguan di dalam hati Nabi Ibrahim As, benarkah perintah itu? Dan, kebeningan hatinya, kejernihan hatinya, menuntun ia pada pembenaran perintah. Ya, itu adalah perintah Allah Swt.
Dengan kesabaran, dengan ketulusan dan kepasrahan Ibrahim As tunduk dan patuh atas perintah. Ibrahim As tunduk dan patuh pada ujian. Maka disembelihlah darah dagingnya.
Allah Swt mengakui ketaatan Ibrahim As. Allah Swt mengakui kesabaran, ketulusan dan kepasrahan Ibrahim As. Dan Allah Swt mengganti darah daging Ibrahim As dengan domba. Allah Swt mengganti perngurbanan Ibrahim As dengan nikmat-Nya. Dalam Surat At Thalaq Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah Swt niscaya Allah Swt akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah Swt melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Swt telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Tunduk-patuhnya Ibrahim As bukan perkara yang mudah. Ketaatan Ibrahim As adalah perkara amat berat. Kesabaran, ketulusan dan keparahannya membawa ia untuk dapat menggapainya. Kesabaran Ibrahim As, ketulusan dan kepasrahannya, tidak untuk mudah diraihnya. Kebeningan hatinya dan kejernihan hatinya membimbing keyakinannya dalam melaksanakannya.
Ya, kebeningan hati dan kejernihan batinlah yang mampu menghantarkan manusia dalam kesadaran. Selayaknya kesadaran yang berhasil diraih Ibrahim As. Yakni kesadaran manusia yang hakiki.
Bagaimana meraihnya? Lagi-lagi kita mengalami kesulitan. Perangi hawa-nafsu kita! Karena ia membuat kotor batin kita. Karena ia membutakan mata hati kita. Sembelilah nafsu hewan kita! Dengan begitu, bersihlah batin kita. Dengan begitu, terbukalah mata hati kita. Selayaknya Ibrahim As.
Kita dianjurkan menyembelih hewan. Laksanakan! Kita dianjurkan berkurban. Laksanakan! Itu adalah manifestasi (perwujudan) dari mendekatkan diri kepada Allah Swt. Cukupkah hanya dengan menyembelih hewan … !?. Dalam Surat Al Hajj Allah berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”.

Ya, bukan hanya sekadar dengan menyembelih hewan kita bisa dekat dengan Allah Swt dan menggapai keridloan-Nya. Tetapi dengan ketaqwaan. Maka dengarkanlah apa kata Jalaluddin Rumi…
Bertindaklah seperti Ibrahim As, bunuhlah hewan yang menghalang-halangi perjalanan (batin) kita. Penggal kepala mereka sebelum mereka merenggut kesadaran kita.
Hewan pertama yang harus kita sembelih adalah Bebek ___”Bebek Keserakahan” yang tidak pernah puas, tidak pernah berhenti mencari. Di darat maupun di dalam air, dia mencari makanan terus. Kerongkongannya seakan tidak berujung.
Hewan kedua adalah Ayam ___ “Ayam Nafsu Birahi”, nafsu yang bisa menjatuhkan manusia, nafsu yang menjadi sebab kejatuhan Adam As.
Ketiga adalah Merak. Dia senang pamer. Untuk mencari perhatian orang dia akan melakukan apa saja. Dialah “Merak Keangkuhan” yang harus kita sembelih.
Dan yang keempat adalah Gagak ___”Gagak Keinginan”. Keinginan untuk hidup terus, berharap untuk keabadian. Dia tidak perduli hidupnya bermakna atau tidak. Dia tidak sadar bahwa sepanjang hidup yang dimakannya hanyalah kotoran. Dia tidak pernah ber-“keinginan” untuk bebas dari kodratnya sebagai gagak.
Kita semua memiliki sifat-sifat hewan ini. Ada yang sadar. Ada yang tidak sadar. Lalu, di antara mereka yang sadar pun ada yang berupaya untuk melampauinya, ada yang tidak. Dan di antara mereka yang berupaya, ada yang berhasil ada pula yang tidak berhasil.
Kita tidak bisa melampaui sifat-sifat hewani di dalam diri, hanya dengan cara menyembelih hewan. Yang harus disembelih bukan sekedar hewan yang kita beli di pasar. Yang harus disembelih adalah sifat-sifat hewani di dalam diri. Tidak gampang. Cukup sulit. Itu sebabnya kita sering mencari jalan gampang. Beli hewan dan kemudian menyembelihnya. Boleh-boleh saja, karena memang kurban dengan menyembelih hewan adalah anjuran. Tetapi itu bukan cara untuk membebaskan diri dari sifat hewani.
Bukan sekedar hewan, tetapi sifat hewani yang harus disembelih. Karena itu, kita dianjurkan perang suci. Ya, perang suci mengendalikan nafsu. Apabila tidak ada nafsu dalam diri kita, tidak akan ada perintah untuk mengendalikannya.
Allah Swt memberikan perintah “Jauhilah”, karena memang ada keinginan-keinginan yang perlu dijauhi. Ada perintah “Makanlah”. Kemudian ada pula perintah “Jangan berlebihan”. Sepertinya ada hal yang berbeda, padahal tidak demikian. Dua-duanya saling berkaitan. Kenapa kita melihatnya sebagai dua hal yang berbeda? Karena mata kita juling, karena penglihatan kita tidak jernih.
Mungkin ada yang beranggapan bahwa ini hanya sekedar khayalan. Betul, ini adalah khayalan Rumi tentang kesadaran. Sementara banyak di antara kita yang hidup dalam khayalan.
Coba kita dengar sebuah cerita indah dari Rumi berikut ini. Semoga mampu membangunkan kita dari tidur panjang. Sebuah teguran kepada Merak yang angkuh.
Bulumu yang indah, itu saja yang engkau pikirkan. Bagaimana dengan kakimu yang kurus dan jelak? Pernahkah engkau melihat ke bawah?
Karena sifat hewani yang satu ini, kesadaran seorang wali pun bisa merosot. Terbiasa disanjung, dihormati, dia pun bisa angkuh.
Ada juga seekor Merak yang sadar. “Bulu ini sering merampas kebebasanku. Karena bulu ini, aku terus diburu. Setiap orang ingin menangkapku. Biarlah aku tampak jelak, tanpa bulu. Demikian, aku tidak akan dikejar-kejar lagi”. Kata Merak.
Keberhasilan dan kecerdasan bagaikan bulu Merak. Bisa menjadi perangkap, sehingga kesadaran manusia merosot lagi.
Merak mencabut sendiri bulunya, dibiarkan rontok. “Karena bulu ini, aku menjadi angkuh. Kalau tidak berbulu, aku tidak akan angkuh lagi.,” pikirnya.
Seorang suci menegur Merak. “apa yang sedang engkau lakukan? Bulumu ini merupakan anugerah tuhan. Dan engkau menyia-nyiakannya? Demikianlah caramu untuk melampaui keangkuhan? Engkau berpikir terlalu banyak, padahal pikiran tidak pernah membantu
Tidak perlu mencabut bulu, tidak perlu menyiksa diri, karena dirimu adalah ciptaan-Nya. Dan engkau tidak akan pernah memahami Sang Pencipta, kecuali lewat ciptaan-Nya. Bebaskan dirimu dari “keterikatan” pada bulu. Dan engkau akan terbebas dari rasa angkuh.
Jangan lupa “keterikatan” itu sendiri masih merupakan sifat hewani. Begitu pula dengan keserakahan, birahi, keangkuhan dan keinginan. Siapkah kita menyembelih sifat-sifat hewan itu? Semoga!!!

*) Alumnus Pon. Pes. Ihyaul Ulum ‘98

11/11/2009

ISLAM AGAMA RAHMAT

Oleh: H.M. Amin Syukur *)

Islam diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. pada + tahun 610 di saat dunia masih dikungkung oleh kekuasaan otoriter dan penuh dengan kekerasan, yang berlaku dan ditegakkan adalah hukum rimba, yang kaya memeras yang miskin, dan yang kuat menindas yang lemah. Diantara yang dianggap lemah ialah kaum wanita. Mereka dijadikan bagaikan harta benda yang bisa diperdagangkan dan diwariskan. Dalam kondisi seperti itu, Al-Qur’an mengajarkan agar manusia saling mengerti, saling mengenal dan saling menghargai. Allah SWT. sengaja membuat keanekaragaman itu, sebagai identitas untuk saling dikenal. Identitas itu tidak mempunyai arti apa-apa kecuali ketakwaan seseorang. Hal itu sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13.

Dengan sikap takwa akan menampilkan sikap tanggung jawab, santun dan kasih sesama manusia. Sikap yang demikian itu adalah dambaan semuanya. Demikianlah cara Islam mengajarkan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Fath ayat 29:

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yg bersama dengannya adalah tegas (asyidda`) terhadap orang-orang kafir (orang yg mengingkari kebenaran), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridlaan-Nya. Ada bekas-bekas sujud di wajah mereka …”
Dengan demikian Islam melarang melakukan kerusakan dan sebaliknya mewajibkan berbuat kasih sayang kepada orang yang berbuat kebaikan. Dalam surat al-A’raf ayat 56 dinyatakan:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Visi Islam
Islam adalah agama yang membawa Rahmat bagi alam semesta: Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamiin (...dan Kami tidak mengutusmu [wahai Muhammad], kecuali membawa cinta kasih kepada alam semesta) - (QS.al-Anbiya`/ 21: 107). Rahmat itu tidak hanya bagi orang Arab saja, tetapi orang ‘ajam (selain Arab) mendapatkan rahmat, bahkan binatang dan tumbuh-tumbuhanpun mendapatkannya.
Betapa mulianya ajaran Islam, ketika binatang mendapatkan kasih sayang, ketika menyembelihnya diwajibkan memakai pisau yang tajam. Ada riwayat yang menyatakan bahwa ada seorang wanita yang masuk neraka, karena kucing. Dia me-nyancang-nya, tidak mau memberi makanan padanya. Dan banyak riwayat yang menyatakan bahwa Allah me-la’nat terhadap orang yang buang air besar ataupun kecil di tempat lalu-lalang manusia atau tempat istirahat mereka (al-Hadits).
Dengan demikian, Islam selalu berusaha menciptakan kesejahteraan di muka bumi ini. Visi tersebut lebih lanjut diwujudkan dalam pola Islam mendidik dengan menanamkan akidah tauhid kepada umatnya dan melaksanakan ibadah dengan penuh penghayatan untuk membentuk akhlak individual dan akhlak sosial.

Bukti Kerahmatan
Beberapa bukti Islam menyerukan kerahmatan ialah: Pertama, potongan lafadh adzan: hayya alash shalah (shalat adalah hubungan vertikal) dan hayya alal falah (kebahagiaan adalah hubungan horisontal). Kedua, shalat diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, maksudnya, takbir menunjukkan hubungan vertikal, sedang salam menunjukkan hubungan horisontal, menebarkan kerahmatan kepada masyarakat sekeliling.
Ketiga, ayat Al-Qur`an lebih banyak yang bernuansa kerahmatan sosial. Hal ini dibuktikan dengan penelitian Imam Khumaini terhadap ayat ibadah formal yang bersifat individual dan ibadah sosial dapat diperbandingkan 100:1, yakni seratus ayat berkaitan dengan ibadah sosial, satu ayat yang berkaitan dengan ibadah formal. Keempat, ibadah formal, terutama puasa dapat diganti dengan ibadah sosial, dan tidak bisa sebaliknya.
Dengan demikian, refleksi yang dapat diambil dari ibadah-ibadah individual pada kerahmatan sosial adalah: seseorang yang kurang memperhatikan masalah sosial akan berakibat fatal (masuk neraka). Dalam surat Al-muddatstsir ayat 42-44 Allah berfirman:
42. "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" 43. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,
44. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miski.

Dipertegas lagi dalam surat Alma’un ayat 1-6:
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. 4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, 6. Orang-orang yang berbuat riya

Ayat di atas menjelaskan, bahwa seseorang dianggap pembohong terhadap agamanya apabila ia beribadah secara formal kepada Allah SWT., tetapi tidak mempunyai kepekaan sosial. Oleh karena itu, semangat ibadah-ibadah haruslah diaktualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan dan tantangan yang sedang dihada¬pi. Dengan adanya sikap yang demikian, maka kita mampu merasakan sense of crisis dalam diri kita. Hakikat ibadah sebagai instrumen atau wahana mendidik umat agar peka terhadap realitas sosial.
Dengan demikian diharapkan ibadah tersebut mampu mendidik umat manusia agar memiliki kerahmatan sosial yang tinggi, sehingga berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat seperti kemis¬kinan, kebodohan dan keterbelakangan dapat diatasi secara bersa¬ma.
Semoga ada manfaatnya. Wallahu a’lam bish shawab

*) Penulis adalah alumni PP Ihyaul Ulum Dukun. Sekarang menjadi Guru Besar Tasawuf di IAIN Walisongo Semarang, Direktur LEMBKOTA (Lembaga Bimbingan dan Konsultasui Tasawuf) Semarang. Pembina Yayasan: YPI Nasima, al-Muhsinun, PAPB Semarang.

11/07/2009

ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG RAMAH

Oleh: H. Elwafa Mahfud, Lc. MPd. )*



Islam di Indonesia adalah Jasa para Wali.

Kalau disimak kembali lembaran peta dunia maka akan kita dapatkan betapa jauh jarak antara Kota Mekkah atau Madinah dengan Indonesia. Namun jauhnya jarak tidak menyurutkan semangat para muballigh (penyebar agama), ulama dan Wali Allah untuk menyiarkan agama Islam ke bumi pertiwi ini. Tidak cuma itu, bahkan karena kegigihan dan jasa mereka ahirnya hingga detik ini kita bisa merasakan manisnya menjadi seorang muslim. Indonesia negeri yang semula sebagai markasnya Animisme, Dinamisme, Hindu dan Budha ahirnya menjadi negeri yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia.

Bukan sulap bukan sihir, ini tidak mudah, merupakan proses panjang yang butuh keahlian dan kesabaran, tidak hanya cukup dengan meneriakkan takbir “Allahu akbar”. Untuk itu, karunia yang satu ini wajib disyukuri dengan syukur yang sebenarnya yaitu menghargai jasa mereka, mendoakan dan meneruskan perjuangannya karena pada hakekatnya perjuangan mereka belum selesai, dan itu adalah tugas kewajiban kita selaku generasi penerus. Bukan sebaliknya (na’udzu billah) malah menyalahkan mereka.

Kenapa mereka berhasil gemilang menyebarkan Islam di Indonesia ?

Karena mereka ikhlas dan tahu bahwa islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin, artinya islam itu pembawa rahmat kasih sayang dan karunia bagi semesta alam; manusia, hewan, tumbuhan dan sekelilingnya. Mereka tidak lupa dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW bahwa dakwah kebaikan tidak harus dengan kekerasan. Rasul telah memberikan teladan metode dakwah yang simpatik.

Sejak era revolusi sampai awal era presiden Habibi tidak pernah ada kekerasan ataupun perusakan yang dilakukan sekelompok muslim. Namun pada tahun tahun terahir ini muncul sekelompok baru dengan memakai cara cara yang bertentangan dengan Al-Quran Hadist dan amat berlainan dengan apa yang telah ditempuh oleh para wali terdahulu. Mereka salah dalam memaknai kata ‘Jihad’, mereka persempit makna jihad. Tidak hanya itu, mereka juga salah dalam memahami Hadist Nabi tentang ‘Fal yughayyirhu bi yadihi’ (hendaklah kamu merubahnya dengan tangan/ kekuatan). Sungguh pemahaman sempit (jawa: cupet) yang dapat menurunkan value of contens dari Al-Quran dan Hadist itu sendiri.

Kelompok Transnasional (jawa: islam anyaran) dengan berbagai namanya; salafi, wahabi, FPI, hizbut tahrir, ikhwan, majelis mujahidin, jamaah tabligh dan semacamnya telah merusak tatanan yang telah lama dibangun oleh para wali dengan susah payah. Mereka juga merusak citra pesantren yang dari dulu terkenal dengan santun dan sikap tolerannya jauh dari anarkis. Bahkan merusak citra islam dan muslimin di mata internasional; sebut saja kasus bom bali (tulisan ini ditulis saat detik detik pelaksanaan eksekusi mati). Beruntung masih ada orang semacam KH. Hasyim Muzadi atau lainnya yang kemudian menjelaskan kepada dunia internasional tentang islam yang sebenarnya. Apakah dengan dibom lantas kemaksiatan di Bali menjadi sirna ? Bukankah korban yang meninggal juga terdapat orang muslim ? Kerukunan antar umat beragama di Bali menjadi rusak setelah sekian lama dibangun; orang orang Bali menjadi curiga terhadap aktifitas kaum muslimin sehingga sangat menyulitkan mereka untuk berdakwah.

Sebagian dari mereka ini adalah orang orang yang baru sadar, baru kenal dan baru belajar tentang islam, itupun dari kitab terjemahan. Makanya tidak sedikit yang tidak bisa membaca Al-Quran, tapi sudah berani berfatwa; haram, bid’ah, sesat, neraka. Ini banyak dijumpai di berbagai perguruan tinggi khususnya kota metropolitan yang haus akan agama, dan akan jarang dijumpai di kota santri. Kaum ini minoritas tidak banyak namun insan pers yang membuat mereka seakan akan banyak.

Islam Agama yang Ramah.

Mari kita tengok sejarah Rasul SAW: 1) Ketika ada seseorang yang kencing di lokasi masjid, Rasul santai saja, lalu ada salah satu Sahabat yang mau menyerang orang tadi tapi justru Rasul mencegahnya. Ahirnya beliau cuma menasihati pelaku kencing tadi. 2) Ketika umat islam di Madinah ‘disakiti’ orang kafir quraisy Mekkah, diserang dan diintimidasi, saidina Hamzah berulang kali datang ke Rasul supaya diijinkan menyerang mereka tapi Allah masih tidak mengijinkan. Baru setelah kesekian kalinya lantas Allah mengijinkan kepada umat islam untuk meladeni tantangan orang kafir, lalu terjadilah perang Badar. Jadi tidak ujug ujug (langsung) menyerang tapi prosesnya panjang, itupun sifatnya membela diri. 3) Ingat juga peristiwa Fathu Makkah (takluknya Mekkah); apakah Rasul atau kaum Anshor-Muhajirin menyerang penduduk Mekkah? Apakah membunuh? Apakah merusak atau melempari rumah? Jawabnya “Tidak”.

Allah berfirman : الاية ... و أعِدّوا لهُمْ ما اسْتطعتمْ من قوّةٍ ومِن رباطِ الخيْل ترْهبُون به عَدوّ الله و عدُوّكمْ

Dan siapkan kekuatan dan pasukan kuda semampumu untuk menakut nakuti musuh Allah dan musuhmu (Al-anfal: 60).

Dari ayat diatas jelas bahwa tujuan hakiki dari dihimpunnya suatu kekuatan adalah sebagai pertahanan keamanan umat (HANKAM) sehingga musuh lari tidak berani mengganggu kita, jadi bukan untuk menyerang orang lain. Dalam Hadist riwayat Bukhari-Muslim dari Ibnu Abbas RA; Rasul mengutus Muadz bin Jabal RA beserta rombongan ke Yaman hanya untuk mengajak para Ahli kitab (yahudi-nasrani) masuk Islam, jadi tidak memerintahkan perang. Para Sahabat Nabi dan Tabiin setiap memasuki wilayah baru non muslim biasanya mereka selalu menawarkan dua pilihan: masuk islam atau bayar Jizyah (pajak), Aslim Taslam (masuklah islam maka kamu selamat).

Tidak kepada manusia saja, sejak 14 abad yang lalu Islam juga mengajak kita agar ramah kepada hewan. Hadist Bukhari Muslim dari Ibnu Umar RA, Rasul bersabda: “Ada seorang wanita masuk neraka dan disiksa gara gara ia mengurung kucing dan tidak memberinya makan dan minum”. Islam juga ramah lingkungan, buktinya Allah berfirman: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah menjadikannya baik” (Al-a’raf: 56).

Dan masih banyak lagi dalil yang intinya menjelaskan bahwa Islam adalah Rahmatan Lil Alamin (Al-anbiya’:107) bukan Mushibatan Lil Alamin (musibah bagi alam semesta), Islam agama yang santun, ramah dan cinta damai. Bukan saja ramah kepada manusia tapi juga mahluk dan alam sekitarnya. Wallahu a’lam bis shawab.

*Alumnus PP. Ihyaul-Ulum dan dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta.

10/22/2009

BERTAHAN DALAM KETERBATASAN

Resume Diskusi OGB community

Persoalan utama pendidikan di Indonesia saat terletak pada terbatasnya ketersediaan lembaga pendidikan yang berkualitas dan kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. Realitas di lapangan, kondisi sebagian besar lembaga-lembaga pendidikan sangat sulit untuk dapat menyediakan pendidikan yang baik, layak, dan bermutu. Hal itu disebabkan minimnya dukungan system kelembagaan yang baik, fasilitas pendidikan yang memadai, dan SDM yang qualified yang merupakan pilar penyanggah utamanya.

Sementara di sisi lain, seringkali pendidikan yang baik selalu identik dengan biaya mahal. Logikanya, hanya lembaga pendidikan yang ditopang modal besar yang dapat menyediakan, dan hanya anak-anak yang berlatar belakang keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi yang dapat mencicipi sekolah yang baik. Sementara sebagaian besar lembaga pendidikan, terutama yang basisnya di desa-desa selalu identik sebagai lembaga pendidikan kelas dua, baik dilihat dari dukungan dana, SDM yang dimiliki, maupun fasilitas penunjang yang tersedia.

Sebuah problem yang kompleks, baik dilihat dari fungsi kelembagaan sebagai pembentuk generasi masa depan, maupun dilihat dari prospek kelembagaannya. Sebagai pembentuk generasi, sebagian besar lembaga pendidikan mengalami kesulitan dalam mencetak output yang diharapkan. Sedangkan prospek ke depan -- jika tidak segera berbenah – juga mengalami kesulitan untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya.

Kekhawatiran ini dilatarbelakangi dua arus besar yang berkembang dan tampaknya ke depan menjadi sebuah keniscayaan yang sulit dihindarkan. Pertama, globalisasi dan pasar bebas. Meskipun gelombang penciptaan dunia global tidak secara langsung bersentuhan dengan dunia pendidikan, tetapi gerbong globalisasi juga membawa pendidikan global. Pendidikan global ini dapat berbentuk, pertama, persaingan global lembaga-lembaga pendidikan dunia dalam bingkai pasar bebas, dimana lembaga-lembaga pendidikan luar negeri yang notabene lebih unggul secara finansial dan SDM mendirikan cabang pendidikan di Indonesia. Dan kedua, dengan kemajuan teknologi informatika, dimana lembaga-lembaga pendidikan yang established (mapan) dalam manajemen, SDM, dan finansial akan memanfaatkannya sebagai sarana pendidikan untuk meningkatkan daya saing.

Kedua, kebijakan pemerintah (meskipun sering tidak konsisten dan terkesan tanpa orientasi yang jelas) dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari produk perundang-undangan (UUD '45 hasil amandemen, UU Sisdiknas, UU Guru dan Dosen, dll) yang dikeluarkan oleh pemerintah yang bertujuan mendorong lembaga-lembaga pendidikan untuk menata diri menjadi lembaga pendidikan yang “dapat dipertanggungjawabkan”. Aspek pembenahan yang menjadi prioritas utama adalah pembenahan dan peningkatan SDM guru/pengajar.

Meskipun kebijakan pemerintah di atas menjadi angin segar bagi perbaikan pendidikan di Indonesia, tetapi juga menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan sebagian besar lembaga pendidikan yang ada. Sebab hanya lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki dukungan dana (SDM dan fasilitias) yang memadai yang dapat segera melakukan penyesuaian dengan arah baru kebijakan pendidikan yang dikembangkan pemerintah, sementara lembaga-lembaga pendidikan yang kurang memiliki SDM dan fasilitas memadai masih butuh waktu untuk melakukan penyesuaian diri. Dan keterlambatan dalam melakukan penyesuaian diri akan berdampak pada semakin sulitnya lembaga-lembaga pendidikan tersebut dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya.

Dengan tantangan seperti di atas, sebagian besar lembaga pendidikan saat ini dihadapkan pada dilematika pendanaan yang cukup pelik. Pertama, ia dituntut untuk melakukan pengembangan diri untuk menjaga daya saing dengan lembaga-lembaga pendidikan yang lain; kedua, lembaga-lembaga pendidikan tersebut dihadapkan pada kesulitan dana untuk mengembangkan dirinya; ketiga. realitas sebagian besar siswa yang berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah; dan keempat, sikap hedonis yang juga sudah menjalar pada komponen-komponen yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan.

Poersolan yang muncul kemudian, mampukah lembaga-lembagan pendidikan yang berbasis di desa untuk sekedar bertahan di tengah persaingan dan tantangan yang begitu ketat? Sedangkan kemajuan dan revolusi teknologi saat ini tidak lagi berada dalam hitungan tahun. Kita tidak dapat lagi memprediksi sampai kapan teknologi yang kita pakai saat ini menjadi sesuatu yang out of date (kadaluwarsa/tidak layak pakai). Dan seandainya lembaga-lembaga pendidikan ini tidak mampu lagi bertahan, maka dapat dibayangkan berapa banyak anak-anak usia sekolah yan harus putus sekolah akibat tidak mampu membayar biaya pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan favorit yang notabene mahal.

Kedua, secara internal, sebagian besar lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis di desa saat ini tidak lebih dari sekedar bertahan pada rutinitas formal dan prosedural. Contoh konkret, sebagian besar lembaga pendidikan belum memiliki mekanisme jaminan mutu lulusannya. Sampai saat ini, lembaga pendidikan masih jarang yang memiliki deskripsi detil tentang kualifikasi yang nantinya dimiliki oleh anak didik setelah mereka lulus, dan bagaimana proses yang harus dilalui untuk mencapai kualifikasi tersebut.
Dari kompleksitas persoalan yang melekat pada sebagian besar lembaga-lembaga pendidikan yang ada saat ini dan dalam rangka menyiapkan diri mengikuti persaingan pendidikan ke depan, tampaknya upgrading SDM perlu mendapat prioritas utama. Hal ini didasarkan pada sebuah argumen bahwa sesempurna apapun sebuah sistem tidak akan efektif tanpa didukung oleh SDM yang memadai.

Pembenahan SDM dapat dilakukan dengan cara 1) revitalisasi misi keguruan sebagai pengemban amanat pencerdas anak bangsa yang saat ini mengalami kehampaan makna, 2) visi keguruan sebagai manusia yang harus melakukan pembelajaran berkelanjutan dalam rangka peningkatan kualitas diri yang saat ini tidak lebih sekedar semboyan.

Namun penataan SDM tidak bisa berdiri sendiri. Ia masih membutuhkan sebuah sistem kelembagaan yang baik yang dapat mendukung dan mendorong suasana pembelajaran kondusif dan kreatif. Kelemahan paling menyolok dari sistem kelembagaan lembaga-lembaga pendidikan saat ini terletak pada kurangnya transparansi (yang mengandaikan adanya pertanggungjawab publik) dan ide kreatif inovatif dari pengelola.

10/16/2009

HAJI: ANTARA IBADAH DAN TAMASYA

Muji Faqoth*)

Suatu ketika seorang sufi, Ibrahim bin Adham, bermimpi, ada dua malaikat turun ke bumi dan berbincang. ”Tahun ini ada berapa orang jemaah yang hajinya diterima oleh Allah?” tanya salah satu malaikat kepada malaikat yang lain. Malaikat yang lain menjawab, ”Dari sekian ribu orang jemaah, tak satu pun yang diterima kecuali seseorang dari Damaskus bernama Muwaffaq.”

Setelah terbangun, Ibrahim berniat mencari kebenaran mimpinya itu. Ia pun bergegas menuju Damaskus mencari orang yang dimaksud. Setelah bertemu dengan Muwaffaq, Ibrahim menanyakan itu. Muwaffaq menjawab pertanyaan itu, ”Sudah lama aku ingin berhaji, tetapi selalu kesulitan dana. Suatu saat aku mendapat untung besar dan aku pun berencana naik haji. Tetapi, saat hendak berangkat, aku mendapati anak-anak yatim di sekitar rumahku kelaparan hingga harus memakan bangkai keledai selama tiga hari. Akhirnya aku batalkan rencana pergi haji dan kuberikan ongkos hajiku itu untuk menolong mereka.”

Kisah teladan tersebut sangat relevan dengan kondisi umat Islam Indonesia. Bayangkan, ratusan ribu umat Islam Indonesia setiap tahun pergi ke Mekkah untuk berhaji. Ada ratusan bahkan ribuan jemaah yang sudah pernah menunaikan haji. Mereka rela membelanjakan jutaan rupiah untuk menunaikan ibadah haji berkali-kali. Bahkan, anak-anak mereka yang masih muda pun ikut dibawa menunaikan haji. Bahkan, di luar musim haji pun, mereka juga amat antusias menunaikan umrah hingga puluhan kali.

Mereka tak menyadari bahwa di belakang mereka banyak orang tua yang antri untuk memperoleh jatah pergi haji. Mereka juga tak menyadari bahwa di sekitar mereka banyak orang miskin dan anak yatim yang menghadapi persoalan kemiskinan. Mereka pun lalai, jika dikumpulkan dan digunakan untuk membantu orang-orang miskin, dana haji itu akan lebih bermanfaat dan berpengaruh positif.

***

Ibadah haji sejatinya adalah perjalanan napak tilas kehidupan keluarga Nabiullah Ibrahim yang berat dan melelahkan. Dalam bahasa populer, haji ibaratnya sebuah ”pertunjukan akbar”. Di sana ada Allah sebagai ”pengatur laku”. Aktor dan aktrisnya adalah Ibrahim, Ibunda Hajar, dan Ismail kecil. Sedangkan setan, musuh abadi manusia, memainkan peran sebagai penjahatnya. Masjidil Haram, Arafah, Shafa, Marwa adalah tempatnya, dengan kain ihram sebagai kostumnya.

Betapa berat perjuangan Nabi Ibrahim meninggalkan anak isterinya di tengah padang tandus untuk memenuhi perintah Ilahi. Pun betapa berat perjuangan Ibunda Hajar yang diamanahi seorang Ismail kecil di tengah sahara tak bertepi, hanya dengan perbekalan yang tidak seberapa. Bisa dibayangkan betapa berat ketika beliau harus berlari-lari antara Shafa dan Marwah, untuk sekadar mencari seteguk air buat anaknya tercinta, yang kemudian dinapaktilasi dalam sa’i, sebelum akhirnya Allah mengaruniakan mata air zamzam yang tidak pernah lelah mengalir, bahkan hingga kini.

Dalam konteks kekinian, disini, yang bukan di Arab Saudi, seorang haji sesungguhnya diuji kemampuannya untuk membumikan pesan-pesan langit yang dinapaktilasi dari perjalanan keluarga Ibrahim. Ujian bagi kita yang awam barangkali tidak sedahsyat Ibrahim dan keluarganya yang berstatus nabi.

Dalam konteks kekinian, kita tidak lagi seperti Ibrahim yang mencari Tuhan dan menghancurkan berhala untuk mencapai keberagamaaan yang hanif. Berhala-berhala berujud fisik seperti patung, arca, barangkali sekarang memang tak ada lagi. Tetapi berhala-berhala jiwa yang kita pertuhankan kini teramat banyak di sekeliling kita. Kita tak mempertuhankan patung, tapi barangkali mempertuhankan harta, tahta, pangkat, dan ketenaran yang melenakan kita, sehingga melupakan hakikat kita sebagai hamba Allah.

Ibadah haji adalah ibadah yang berat dan besar. Ibadah yang membutuhkan pengorbanan luar biasa, baik dari sisi fisik, mental, maupun material. Bertamu ke belahan bumi lain yang jauhnya ribuan kilometer, dengan cuaca panas menyengat tidak bersahabat, jauh dari kehangatan keluarga, serta membutuhkan biaya puluhan juta rupiah, jelas bukanlah pekerjaan sederhana.

Namun sayangnya, keberangkatan ke tanah suci tak selalu bermotivasikan landasan kehendak yang suci pula. Itulah sebabnya jauh-jauh hari Nabi Muhammad SAW. telah melontarkan satu sinyalemen yang bernada agak getir dan terasa mempedihkan. Kelak umatku, kata Nabi, bakal tertimpa satu zaman yang orang-orang kayanya menyetarakan ibadah haji seperti perjalanan tamasya, rekreasi atau kunjungan wisata. Orang-orang kelas menengahnya, juga memperlakukannya sebagai ajang bisnis perdagangan demi meraup keuntungan semata. Sementara para pejabat dan orang-orang pandainya, justru memperalatnya demi popularitas, pamer diri dan rasa gengsi.

Maka dari itu, jangan pernah menunaikan ibadah haji yang suci tanpa memperoleh gelar sebagai haji mabrur. Cirinya, kenikmatan haji yang telah dijalaninya akan terus membekas dan tertuang dalam perilaku kesehariannya. Bagi orang-orang yang telah diterima hajinya, keberagamaannya akan mengalami peningkatan yang mengagumkan. Perilaku keberagamaan itulah yang akan berimbas mewarnai sistem sosial yang melingkupinya.

Oleh karena itulah, bagi yang telah meyakini bahwa dirinya -insya Allah- termasuk ke dalam golongan haji mabrur, maka hendaknya senantiasa memelihara dan melestarikan kemabrurannya. Caranya dengan gampang bersedekah dan memiliki sikap peduli sosial, suka membantu dan santun kepada orang lain. Di samping itu dirinya juga harus selalu menebarkan kedamaian, menciptakan ketenangan, serta memayungkan keselamatan keluarga dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Orang yang demikian inilah, yang telah dijanjikan dan disediakan surga baginya.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

الحج المبرور ليس له جزاء الا الجنة و بر الحج اطعام الطعام و إفشاء السلام

Untuk itu, Allah telah menyiapkan balasan yang manis. Tidak ada balasan yang paling pantas untuk haji yang mabrur, melainkan surga. Kata kuncinya adalah haji yang mabrur, bukan haji tamasya, apalagi haji yang mardud.

Yang berhaji mabrur adalah mereka yang ikhlas berhaji, lillahi ta’aala, sebagai wujud penghambaan diri, sempurna syarat dan rukunnya, serta mampu membawa nilai-nilai haji dalam kehidupan di Tanah Air. Haji yang mabrur selalu berangkat dari niat yang ikhlas, memenuhi panggilan dan seruan Allah sebagai hamba yang taat. Untuk melestarikan kemabrurannya, adalah dengan memberi makan kepada orang yang membutuhkan dan menebarkan salam kedamaian.

Mari kita do’akan saudara-saudara kita yang sudah pergi haji, semoga Allah menganugerahkan kemabruran haji, keindahan ibadah, pengalaman spiritual yang unik, pelajaran kehidupan dan keimanan yang mengesankan dari langit tanah suci untuk dikebumikan digersangnya tanah Indonesia yang sedang meradang ini.

Wallahu a’lam bish shawab.

*) Penulis adalah alumni PP. Ihyaul Ulum Dukun Gresik

10/04/2009

KEUTAMAAN ILMU DARI PADA HARTA

Oleh; Drs. Moh. Fu’ad Syakur

Untuk memahami tema di atas, kita mulai sama-sama teringat kembali saat masih mengaji di sebuah pondok pesantren, surau-surau atau pengajian di masjid-masjid desa, di mana seorang Kiai membacakan sebuah kitab berjudul mawaidlul ushfuriyah, karangan ulama besar syekh Muhammad bin Abi Bakar.

Dalam satu kesempatan, sebagaimana tertulis dalam kitab tersebut, Nabi Muhammad Saw bersabda; أنا مدينة العلم وعلى بابها, ketika golongan Khawarij mendengar sabda Nabi ini mereka semua hasud kepada Sayyidina Ali. Maka berkumpullah 10 golongan dari pembesar-pembesar mereka. Mereka bersepakat untuk menanyakan kepada Sayyidina Ali satu persoalan, kalau Sayyidina Ali bisa menjawab 10 jawaban dengan alasan yang berbeda-beda barulah mereka meyakini kepandaian Sayyidina Ali. Berangkatlah satu demi satu di antara mereka dengan membawa pertanyaan yang sama seperti yang tercantum dalam dialog berikut.

Khawarij; “wahai Ali lebih utama mana antara ilmu dan harta?”. Sayyidina Ali menjawab, “tentu lebih utama ilmu”. Kemudian perwakilan dari khawarij itu melanjutkan kembali pertanyaannya. “Apa alasan anda?”, Jawab Sayyidina Ali; “karena ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta itu warisan Qorun, Sadat dan Fir’aun”. Setelah itu, datang orang kedua menanyakan hal yang sama.

Orang kedua; “wahai Ali lebih utama mana antara ilmu dan harta?”, Sayyidina Ali menjawab; “ilmu lebih utama dari pada harta”. Orang kedua ini pun menanyakan alasan atas jawaban tersebut seperti yang dilakukan orang pertama. Sayyidina Ali menjawab bahwa, “ilmu itu bisa menjaga kita, sedangkan harta malah kita yang menjaganya”. Begitulah seterusnya, golongan ke-tiga s/d golongan kesepuluh mengajukan pertanyaan yang sama dan dijawab oleh Sayyidina Ali dengan jawaban yang berbeda-beda sebagaimana berikut;

pasar uang diseimbangkan oleh bunga sedang pasar internasional diseimbangkan oleh kurs mata uang. Logikanya, ketika ada produsen meningkatkan harga barang terlalu tinggi, maka permintaan barang akan mengalami penurunan, sebaliknya jika konsumen meminta harga yang terlalu rendah tidak ada perusahaan yang akan menjual barangnya. Bertemulah titik keseimbangan itu. Keseimbangan antara permintaan konsumen akan diseimbangkan dengan besarnya harga barang dari produsen, keseimbangan antara kerja yang dilakukan pekerja dengan diseimbangkan dengan besarnya upah yang diterimanya, Mereka percaya sepenuhnya pada mekanisme pasar, pasar yang berdaulat.

Meskipun muncul gagasan untuk memunculkan peran serta pemerintah sebagai penentu kebijakan negara sebagaimana teori yang dikembangkan oleh John Stuart Mill (1806 – 73) dan John Maynard Keynes (1883 – 1946). Bagi mereka meskipun peran negara sangat lemah dalam mengatur kebebasan individu dan meskipun negara harus “berlepas tangan” dalam sebagian besar bidang kehidupan, namun negara perlu campur tangan dalam bidang pendidikan anak atau memberikan bantuan untuk orang miskin, serta dalam permasalahan pengangguran.

Ada 12 syarat yang diberlakukan jika suatu negara ingin mendapatkan bantuan atau pinjaman dari lembaga-lembaga dunia termasuk Bank Dunia (World Bank), Bank Pembanguanan Asia (ADB) serta lembaga bantuan asing lainnya. Diantara dua belas syarat tersebut adalah:

1. Price Decontrol : Penghapusan kontrol atas harga komoditi, faktor produksi, dan mata uang. Yang berarti tinggi rendahnya harga ditentukan oleh pasar

2. Exchange Rates : Untuk meningkatkan ekspor dengan cepat, negara-negara berkembang memerlukan tingkat nilai tukar matauang yang tunggal dan kompetitif.

3. Trade Liberalization : Pembatasan perdagangan luar negeri melalui kuota (pembatasan secara kuantitatif) harus diganti tarif (bea cukai), dan secara progresif mengurangi tarif sehingga mencapai tingkat yang rendah dan seragam (kira-kira 10% sampai 20%). Hal ini berarti semakin besarnya barang-barang luar negeri yang menjadi pesaing di negara kita karena rendahnya biaya cukai yang diberlakukan yang bisa menyebabkan semakin terpurunya produk-produk dalam negeri, termasuk produk UKM dan home industri masyarakat bawah karena tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang notabene bagian dari organisasi kaum liberal.

4. Foreign Direct Investment : Penghapusan hambatan terhadap masuknya perusahaan asing. Perusahaan asing harus boleh bersaing dengan perusahaan nasional secara setara; tidak boleh ada pilih-kasih. Hal ini akan menjadikan semakin terpuruknya perusahaan-perusahaan dalam negeri, termasuk usaha kecil menengah (UKM).

5. Privatization : Perusahaan negara harus diswastakan. Hal ini berarti akan semakin sedikitnya aset dan sumber daya alam yang dimiliki dan dikelola oleh negara/rakyat bangsa ini karena saham-saham perusahaan negara dikuasai oleh asing.

6. Deregulation : Penghapusan peraturan yang menghalangi masuknya perusahaan baru ke dalam suatu bidang bisnis dan yang membatasi persaingan; kecuali kalau pertimbangan keselamatan atau perlindungan lingkungan hidup mengharuskan pembatasan itu.

7. Property Rights : Sistem hukum yang berlaku harus bisa menjamin perlindungan hak milik atas tanah, kapital, dan bangunan. Hal ini berarti perusahaan-perusahaan asing yang mengelola SDA bangsa ini semakin tidak tersentuh dan saham perusahaan tersebut tidak bisa di nasionalisasikan menjadi milik bangsa ini sendiri.

Dengan adanya ekonomi pasar tersebut pemerintah tidak lagi kuasa mengatur ekonominya, menentukan keadilan sosial bagi rakyatnya. Semua dikendalikan oleh pasar, maka orang pemilik modal jelas akan merajai pertarungan. Ketika pertanian diserahkan pada mekanisme pasar, maka petani harus mampu bersaing sendiri dengan petani-petani modern Amerika dan Eropa serta beberapa Negara Asia lain seperti Thailand. Tidak ada yang namanya pembatasan impor, semua barang bebas masuk. Tidak ada namanya subsidi pupuk, atau BBM. Kalau mau hidup silahkan urus sendiri, perbaiki sistem manajemen dan kualitas mutu untuk mampu bersaing.

Jika hal serupa terjadi pada dunia pendidikan (gejalanya dengan BHP/Badan Hukum Pendidikan pada perguruan tinggi sekarang yang berarti terjadi otonomi perguruan tinggi), kesehatan (rumah sakit dianggap sebagai penghasil Pendapatan Asli Daerah/PAD) diserahkan pada mekanisme pasar. Maka biaya sekolah dan kesehatan akan melambung tinggi karena perguruan tinggi harus mencukupi kekurangan biaya yang sebelumnya disubsidi pemerintah dan pamerintah daerah berlomba-lomba untuk memperoleh pendapatan sebesar-besarnya, bagaiman dengan masyarakat miskin? Sebaiknya tidak perlu sekolah dan dilarang sakit. Melihat logika di atas, adalah sangat wajar berbagai kalangan melihat kehadiran neo-liberalisme sebagai ancaman yang sangat serius bagi bangsa ini, hal ini karena besarnya kesenjangan masih belum bisa diselesaikan oleh pemerintah, masih besarnya ketidakmerataan pendidikan di negeri semakin memperburuk kondisi masyarakat bangsa ini. Hal ini diperparah lagi dengan perjanjian-perjanjian yang harus dipenuhi oleh pemerintah terkait seringnya hutang keluar negeri.

Oleh karena itu sudah seharusnya bagi kita untuk selalu cermat dalam segala hal terutama terutama yang berkaitan pengambilan keputusan, baik itu keputusan pribadi apalagi keputusan yang berkaitan dengan negara dan rakyat yang dilakukan pemerintah atau pihak yang memegang kebijakan. Apalagi tanggal 8 juli nanti kita melaksanakan pemilu presiden, kita harus cermat dan teliti serta kritis dalam menentukan pilihan kita agar bangsa ini tidak semakin terpuruk dan pada akhirnya tidak memiliki aset/kekayaan apapun bagi generasi mendatang. Wallahua’lam bish showaab


*) Ditulis untuk diterbitkan Buletin Riyaadlotul Muhtaajiin OGB Community Gresik . Penulis adalah Alumni Pon Pes Ihyaul Ulum Dukun Gresik


8/08/2009

Review of Amartya Sen's "The Idea of Justice"


From "Economist" August 6, 2009, review of Amartya Sen's The Idea of Justice (Harvard University Press, 2009):


How to do it better






Excerpt:


"Rawls held that social justice depended on having just institutions, whereas Mr Sen thinks that good social outcomes are what matter. Strictly both could be right. The practical brunt of Mr Sen’s criticism, however, is that just institutions do not ensure social justice. You can, in addition, recognise social injustices without knowing how a perfectly fair society would arrange or justify itself. Rawlsianism, though laudable in spirit, is too theoretical, and has distracted political philosophers from corrigible ills in the actual world."


Professor Sen's "hero is Adam Smith: not the Smith of free-market legend, but the father of political economy who grasped the force of moral constraint and the value of sociability. To encapsulate the shift in attitude that Mr Sen has sought to bring about, ethics and economics are to be seen as Smith saw them: not two subjects, but one."

"Mr Sen ends, suitably, with democracy. It can take many institutional forms, he says. But none succeeds without open debate about values and principles. To that vital element in public reason, as he calls it, “The Idea of Justice” is a contribution of the highest rank."

6/29/2009

Habermas = "Ersatzreligion"

On the occasion of Jürgen Habermas's 80th birthday, there have been many friendly and flattering congratulations and comments on Habermas. But now it is time for a critical voice.

The national German radio station, Deutschlandsfunk, broadcasted on June 18, the day of Habermas's bithday, an interview with professor Norbert Bolz (Berlin Institute of Technology) entitled:

"Niemand hat mehr Angst vor den deutschen Denkern"
(No one is any longer afraid of the German thinkers)

The broadcast is available here.

In the interview, Norbert Bolz makes four points:

1. Habermas's communication theory is a substitute for religion.

"Wenn man genauer hinschaut, dann sind die Angebote, die Theorieangebote, die Habermas macht, so eine Art Ersatz für das, was man früher von der Religion bekommen hat. Also gerade der zentrale Begriff von Habermas, nämlich Konsens, ist ziemlich deutlich erkennbar als eine Art Ersatz für Versöhnung, also für dieses tiefe religiöse Versprechen, versöhnt zu sein. Oder wenn man denkt an Begriffe wie "verzerrte Kommunikation", dann sieht man darin sehr, sehr schön, dass es Habermas gelungen ist, einen modern klingenden, aufklärerisch klingenden Ausdruck für etwas sehr Altes anzubieten, nämlich etwas, was wir früher als Entfremdung oder Sündhaftigkeit angesprochen haben. Also Habermas hat dadurch, denke ich, vor allen Dingen Leute fasziniert, dass er Intellektuellen, die stolz darauf sind, mit Religion nichts zu tun zu haben, trotzdem, ohne dass sie es gemerkt haben, eine Art Ersatzreligion angeboten hat."

2. Habermas's theory is suited for political speeches, but is difficult to take seriously.

"Ich persönlich habe überhaupt nichts dagegen, ich habe auch nichts gegen andere Religionen. Wer das glauben mag oder wem das ein gutes Gefühl gibt, dass das bessere Argument sich durchsetzt, dass es so etwas wie einen gewaltlosen Diskurs gibt und dass am Ende tatsächlich die Aufklärung siegt über die Macht, der soll das ruhig glauben. Das sind ja auch Menschen, die meistens recht harmlos sind und von denen keine Gefahr ausgeht. Insofern kämpfe ich nicht dagegen, aber ich kann's auch nicht allzu sehr ernst nehmen. Und in Wahrheit nimmt das wohl auch tatsächlich niemand ernst. Das eignet sich für Sonntagsreden, es eignet sich als philosophischer Schmuck auch für politische Reden, aber mit der Wirklichkeit, in der wir leben, in der wir kämpfen müssen und arbeiten müssen, hat das doch herzlich wenig zu tun."

3. Habermas is famous not because of his philosophical works, but because of his network among journalists and intellectuals.

"Er ist nicht als Geist eine Weltmacht, er ist keine intellektuelle Weltmacht, nicht als Philosoph ist er von so durchschlagendem Erfolg, sondern er ist es vor allen Dingen institutionell. Oder um es zeitgemäßer zu sagen: Habermas ist wohl der größte Netzwerker, der je in der Geistesgeschichte Deutschlands tätig war. Das heißt, er hat es verstanden, nicht nur in Deutschland und in Europa, sondern in der ganzen Welt ein Netzwerk, auch gerade ein persönliches Netzwerk zu stabilisieren, sodass Sie, wenn Sie irgendwo anrufen, wenn Sie irgendjemanden befragen nach Habermas, Sie überall die lobendsten und begeistertsten Zusprüche bekommen. Also es geht weniger um seine Philosophie als um die Art und Weise, wie er sich selbst und sein Denken in der ganzen Welt inszeniert hat."

4. Habermas's work will not have a lasting impact, but he has made the world less afraid of German thinkers.

"Ich denke, von der Habermas'schen Lehre wird nicht sehr, sehr viel bleiben, allerdings wird er in seinem Effekt, denke ich, immer bewundernswert bleiben, nämlich dem, dass er, wie soll man sagen, das Bild des deutschen Geistes in der Welt radikal verändert hat. Niemand hat mehr Angst vor den deutschen Denkern."

Professor Nobert Bolz is a known media scholar in Germany. He has studied the works of Theodor W. Adorno and Walter Benjamin, but is now working within the tradition of Niklas Luhmann. His books and his articles in the German press are usually very controversial and provocative.

Norbert Bolz was also interviewed in the German "Festschrift" for Habermas: "Über Habermas" edited by Michael Funken (Primus Verlag, 2008). In the interview Funken asked Bolz if he thought Habermas will be remembered as a great philosopher - like Martin Heidegger - or be forgotten - like Karl Jaspers. Bolz answered: "Na also, für mich gibt's überhaupt keinen Zweifel, dass natürlich Habermas den Weg von Jaspers nehmen wird. Also ich halte die Philosophie von Habermas nichr für eine grosse Philosophie. Ihn mit Heidegger zu vergleichen halte ich für absurd" (p. 152).

Read also two other articles by Bolz on Habermas:
- Der Bundesphilosoph (Tagesspiegel, May 3, 2003)
- Die religiöse Wärmestube (Welt, February 5, 2004)

If you want to read some very vicious remarks about Habermas's work, you can find it here: Sybille Tönnies's "Des Kaisers neue Kleider - keine Hommage" ("The Emperor's New Clothes - No Hommage"). It is also from Deutschlandsfunk!

6/23/2009

Ideas of Kant and Habermas in Iran

Ramin Jahanbegloo - an Iranian philosopher, now living in Canada - gave an interview in 2006, in which he evaluated the influence of Western ideas (liberalism, Kant, Habermas and marxism) on the protest movements in Iran.

Here are some excerpts from the interview:


"Thanks to the recent discovery and translations of the schools of liberal thought dominant in the Anglo-American world, as found in the works of Isaiah Berlin, John Rawls and Karl Popper, and an appreciation of older traditions of liberalism (Kantian, Millian or Lockean), a new trend of liberalism has taken shape among the younger generation of Iranian intellectuals."

"Habermas’s visit to Iran [in 2002] was a huge success. He was treated in Iran the way Bollywood actors are treated in India. Wherever he went or lectured, he was encircled by hundreds of young students and curious observers. This same phenomenon happened again when Richard Rorty visited Iran in 2004: around 1,500 souls came to his lecture on “Democracy and Non-Foundationalism” at the House of Artists in Tehran. Habermas’s visit to Iran was an important event in the process of democratic thinking and dialogue among cultures. (.....) Today in Iran philosophy represents a window on Western culture, on an open society and on the idea of democracy. This is the reason why Habermas, Rorty, Ricoeur, Berlin and many others are relevant in Iran. Most of the intellectuals in Iran today are struggling against different forms of fundamentalism, fanaticism and orthodoxy. Habermas is considered the inheritor of the Frankfurt School’s intellectual tradition that from the very beginning questioned all orthodoxies and authoritarianisms."

"I teach Hegel in Iran and I have made great use of Habermas’s work in my Hegel scholarship. I think Habermas’s reading of Hegel reinforces his approach to the philosophy of history, but it also consolidates his defense of the Enlightenment project as modernity’s self-understanding. This goes hand in hand with Habermas’s reading of Kant. (.....) As you might know, Kant is a very popular philosopher in Iran and there were several celebrations in Tehran for the 200th anniversary of his death in 2004. Well, once again as for Hegel, Habermas’s recasting of the Kantian principle of autonomy and its political implications shows how public reason lies at the heart of democratizing processes and is decisive to the survival of non-authoritarian political, social, and economic institutions in our world. And you can see how Kant — and Habermas’s reading of Kant — can be helpful in reformulating and re-elaborating a new democratic thinking in Iran."

"Thinking democracy and establishing democratic governance in a country like Iran is not an easy task. Unlike what people think, it is more than a simple political enterprise. The challenge here is to focus on the process of democratic consciousness-building which can provide continuity to the political structures of democracy by way of contrast with our authoritarian traditions. This is where philosophical thinking comes to our aid as a grammar of resistance to the tyranny of tradition. This does not mean that I consider the tremendous body of traditions in Iran as mere errors of the past. It means that our political and social traditions are acceptable as long as they enable us to think freely. We may find ourselves at home in our traditions, after all. But we need to distinguish between a false sense of belonging and respect for a common space where the plurality of voices can be realized."

The interview with Jahanbegloo was conducted by Danny Postel and was published in his article "Ideas Whose Time Has Come: A Conversation with Iranian philosopher Ramin Jahanbegloo", Logos, vol. 5-2 (2006).

Jahanbegloo is educated at Sorbonne University and Harvard University. He became head of a philosophy department in Tehran, where he started a dialogue with many Western intellectuals and invited Jürgen Habermas and Richard Rorty to Tehran. He was arrested by the Iranian authorities in 2006. Jürgen Habermas and many other intellectuals signed a petition for his release (see here). Jahanbegloo is now associate professor at University of Toronto.

Read also Jahanbegloo's comments on the latest political developments in Iran: "Iran's Crisis of Legitimacy" (June 17, 2009).

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger